majapahit2010

Selasa, 10 November 2020

Ki Ageng Brondong / Pangeran Lanang Dangiran

Ki Ageng Brondong / Pangeran Lanang Dangiran



A.   Pangeran Lanang Dangiran Kiyahi Ageng Brondong.Kang Sumare Ing Pesarehan “Sentono Boto Putih” Surabaya

Bersumber dari Rodovid tentang Silsilah keluarga yang berkaitan dengan Trah Botoputih, dengan pancer leluhur Ki Ageng Brondong, untuk itu disini kami sajikan sedikit cerita Ki Ageng Brondong, nama gelar lainnya adalah Pangeran Lanang Dangiran di Ampel Surabaya. Konon dituturkan bahwasanya Pangeran Kedawung atau disebut juga Sunan Tawangalun adalah nama gelar saat menjadi Raja di Blambangan ( sekarang wilayah Banyuwangi-Jawa Timur), berputra sebanyak 5(lima) anak diantaranya Pangeran Lanang Dangiran atau dikenal dengan nama Kyai Brondong. Dalam usia 18 tahun beliau melakukan bertapa, dengan menghanyutkan diri diatas sebuah papan kayu dan sebuah bronjong (alat penangkap ikan terbuat dari anyaman bambu ) di sungai. Dalam bertapanya tersebut dihanyutkan sampai dipantai utara Jawa. Gelombang dan arus air laut mengehempaskannya, dan akhirnya terdampar ditepi pantai dekat Sedayu - Lamongan dalam keadaan tidak sadar. Keadaan seluruh badannya dilekati oleh berbagai binatang laut seperti kerang,remis dlsb. Sehingga terlihat kulit tubuhnya seperti diselimuti butiran jagung bakar (bhs jawa = brondong ). Pangeran Lanang Dangiran saat terdampar tersebut ditemukan oleh Kyai Kendil Wesi, dan dirawatnya dan dibawa pulang , sampai sehat seperti sedia kala. Selang beberapa waktu lamanya, Kyai Kendil Wesi mengetahui asal-usul Pangeran Lanang Dangiran, yang tidak lain masih satu keturunan dengan Kyai Kendil Wesi, yaitu keturnan dari raja-raja Blambangan, yang mana Kyai Kendil Wesi dari Trah Menak Soemende. Didalam asuhan Kyai kendil Wesi terhadap Pangeran Lanang Dangiran dianggap sebagai anak sendiri, dan ketika dewasa beliau memeluk/masuk agama Islam, dan sampai menjadi guru agama. Berselang dewasa Pangeran Lanang Dangiran menikah dengan puteri dari Ki Bimo Tjili, berasal dari Panembahan di Cirebon. Dan kemudian dikenal Kyai Brondong. Kyai Kendil Wesi mengetahui bahwa kelak kemudian hari puteranya akan hidupnya mulia, serta menjadi pemuka agama, maka disarankan agar Pangeran Lanang Dangiran untuk meluaskan ajaran Agama Islam, ke wilayah Ampel Dento di Surabaya. Akhirnya pada tahun 1595, Kyai Brondong dengan keluarga menetap di Surabaya, tepatnya diseberang Timur Sungai/kali Pegirikan, dekat Ampel disebut padukuhan Botoputih. Disinilah di awal penyembar Agama Islam tepatnya di Ampel Surabaya. Pada waktu itu Kadipaten Surabaya masih merdeka, tidak dibawah kekuasaan Mataram, dan saat itu yang memegang kekuasaan adalah Pangeran Pekik.

Dalam perjalanan sejaran Surabaya pada tahun 1625, akhirnya dikuasai / dalakekuasaan Mataram. Pangeran Pekik masih ditetapkan sebagai Adipati di Surabaya dibawah kekuasaan pemerintahan Amangkurat I. Kyai Brondong / Ki Ageng Brondong / Pangeran Lanang Dangiran wafat pada tahun 1638 dalam usia 70 tahun, dimakamkan di makam Sentono Botoputih Kasepuan Surabaya. Meninggalkan putera sebanyak 7(tujuh)orang, diantaranya putera laki-lakinya adalah :

 

B.     Onggodjoyo & Honggowongso.

Setelah Pangeran Pekik wafat karena dibunuh oleh Amangkurat I, Onggowongso ditetapkan menjadi Tumenggung di Surabaya, sedangkan Onggodjoyo sebagai Tumenggung di Pasuruan sebagai penghargaan jasa-jasanya dalam Peperangan Pemberontakan Trunodjoyo. Beliau adalah Nenek moyang (cikal bakal) pakem Sejarah seperti halnya: trah Boto Putih, trah Kasepuhan Surabaya, trah Kanoman Surabaya, trah Kasepuhan Sidoarjo, trah Sambongan,trah Nitidingrat_Pasuruan, trah Notodiningrat_Bangil Pasuruan, trah Bustaman_Semarang, trah Puspunegoro Gresik, Han Dinasti, trah Tjitrosoma Tuban, trah Batoro Katong_Ponorogo, trah Suryowinoto Gresik. Untuk melestarikan warisan leluhur beberapa pencinta Genealogy Family Tree sebagai pendahulu telah meninggalkan hasil karyanya, beliau sebagai pengamat, peneliti, serta penyusun Silsilah / Asal Silah adalah Raden Adipati Arya Nitidiningrat Bupati Suroboyo, Raden Ngabei Tjokro Hadiwikromo (Onder Colleteur Kendal), Raden Panji Makmoer (Ketua Paguyuban Sentono Botoputih Surabaya), Raden Tumenggung Arya Noto Adikusumo (Zainal Fattah = Bupati Pamekasan), Raden Bagus Yasin / Raden Ngabei Kromodjoyoadirono ( Asisten Wedana Ngebel Ponorogo ) dan masih banyak lagi.

Catatan :

Jenjang susunan pada Silsilah Keluarga atau Genealogy Diagram dibuat / dimulai dari atas yaitu yang tertua kebawah s/d. keturunan termuda, ini menganut pakem budaya Jawa Kasunanan Surakarta Hadiningrat khususnya dan pada umumnya, atau dikenal dengan nama Trah = Keturunan. Penulisan silsilah dibuat rentang jenjang setiap /sampai ke 10(sepuluh) level / graad). Dibuat berdasarkan petujuk membuat silsilah dalam buku "Serat Piagem Sentana “ (gebookteakte) ngrewat sala-silahing ing Kasunanan Surakarta Adiningrat (Paku Buwana)", yaitu dimulai dari:

1.      Pancer …………… = Trah adalah nama nenek moyang/leluhur yang dijadikan pedoman cikal bakal.

2.      Urutan 1 = Anak / putera

3.      Urutan 2 = Cucu.

4.      Urutan 3 = Buyut .

5.      Urutan 4 = Canggah

6.      Urutan 5 = Wareng

7.      Urutan 6 = Udeg-udeg

8.      Urutan 7 = Gantung Siwur

9.      Urutan 8 = Gropak senthe

10.  Urutan 9 = Debog bosok

11.  Urutan 10 = Galih Asem.

Urutan penulisan dimulai dari Pancer, misal yang dianut pancer laki-laki (patrinial), yang kemudian sampai rentang keturunan kesepuluh (Galih Asem), dan yang kemudian akan menjadi “Pancer” Trah/Keturunan berikutnya. Dengan adanya vasilitas dari genealogical chart di website http://id.rodovid.org/wk/...., maka 10(sepuluh) level / graad oleh penulis diterapkan. Sedangkan dalam hardcopy penyusun gunakan dalam bentuk simbul-simbul yang nampak pada pembagian kelompok level (dapat dilihat samping kiri & di kiri bawah lembar silsilah). Dapatlah kami sampaikan bahwa silsilah ini (Family Tree) pancer Laki-laki terbentuk dan akan berakhir jika keturunan berstatus perempuan. Artinya dari keturunan seorang Ibu yang semula dari marga A, anak keturunannya akan ikut pada suaminya misal marga B. Hal ini tidak mengubah makna apapun, ini hanyalah ilustrasi susunan keluarga walaupun menganut garis perempuan (matrinial) kesemuanya dibuat menganut petunjuk cara menulis silsilah yang benar.

 

C.    Riwayat Hidup Kiyahi Ageng Brondong Botoputih Suroboyo.

Konon dituturkan Pangeran Kedawung, disebut juga Sunan Tawangalun adalah raja di Blambangan atau dikatakan juga Bilumbangan. Beliau mempunyai 5 orang anak dan diantaranya ialah pangeran Lanang Dangiran. Diceritakan bahwa Lanang Dangiran pada usia 18 tahun bertapa dilauy dan menghanyutkan dirinya diatas sebuah papan kayu sebuah beronjong (alat penangkap ikan), tanpa makan atau minum, arus air laut dan gelombang membawa Lanang Dangiran hingga dilaut jawa dan akhirnya suatu taufan dan gelombang besar melemparkan Lanang Dangiran dengan beronjongnya dalam keadaan tidak sadar, disebabkan karena berbulan-bulan tidak makan dan minum, dipantai dekat Sedayu. Seluruh badannya telah dilekati oleh karang, keong serta karang-karang (remis) sehingga badan manusia itu seolah-olah ditempeli dengan bakaran jagung yang disebut dengan bahasa jawa “Brondong” Badan Pangeran Lanang Dangiran diketemukan oleh seorang kiyahi yang bernama Kiyahi Kendil Wesi. Pangeran Lanang Dangiran dirawat oleh Kiyahi Kendil Wesi serta istrinya dengan penuh kasih sehingga sadar kembali dan akhirnya menjadi sehat seperti sediakala. Pangeran Lanang Dangiran menceritakan asal-usulnya kepada Kiyahi Kendil Wesi. Setelah Kiyahi Kendil Wesi mendapat keterangan tentang asal usulnya Pangeran Lanang Dangiran, maka diceritakan oleh Kiyahi tadi bahwa ia juga asal keturunan dan raja-raja di Blambangan yang bernama Menak Soemandi dimana beliau masih satu keturunan dengan Lanang Dangiran. Lanang Dangiran tinggal dan kumpul dengan Kiyahi Kendil Wesi, dan dianggap sebagai anaknya kiyahi sendiri. Pangeran Lanang Dangiran memeluk agama Islam, karena rajin dan keteguhan imannya serta keluhuran budinya serta kesucian hatinya, maka tidak lama pula ia dapat tampil kemuka sebagai guru Agama Islam, Pangeran Lanang Dangiran berisitrikan putrid dan Ki Bimotjili dan Panembahan di Cirebon yang asal usulnya dituliskan sebagai berikut : Pangeran Kebumen Bupati Semarang, berisitrikan putrid dan Sultan Bojong, bernama Prabu Widjaja (Djoko Tingkir). Ki Bomotjili adalah salah satu seorang putra dan Pangeran Kebumen tersebut diatas, seorang putri dan Ki Bimotjilimi bersuamikan Pangeran Lanang Dangiran alias Kiyahi Brondong (dimakamkan di Boto Putih). Nama Brondong diperoleh karena ia diketemukan oleh Kiyahi Kendil Wesi badannya dilekati dengan “Brondong” Kiyahi Kendil Wesi yang waspada dan mengetahui nasib seseorang, mengatakan kepada Lanang Dangiran yang sudah mendapat sebutan Kiyahi Brondong dan masyarakat sekitar tempat Kiyahi Kendil Wesi, supaya pergi ke Ampel Dento Suroboyo, dan meluaskan ajaran Agama Islam, karena di Surabaya Kiyahi Brondong kelak akan mendapat kebahagiaan serta turun temurunnya kelak akan timbul dan tambah menjadi orang-orang yang mulya. Kemudian Kiyahi Brondong dengan istrinya dan beberapa anaknya yang masih kecil pergi ke Surabaya dan pada Tahun 1595 menetap diseberang timur kali Pegiri’an, dekat Ampel ialah Dukuh Boto Putih (Batu Putih) ditempat baru inilah Kiyahi Brondong mendapatkan martabat yang tinggi dan masyarakat, karena keluhuran budinya Kiyahi Brondong (pangeran Lanang Dangiran) wafat pada tahun 1638 dalam usia + 70 tahun dan meninggalkan 7 orang anak, diantaranya 2 orang laki-laki yaitu : Honggodjoyo dan Honggowongso. Bupati Sidoarjo yang pertama adalah keturunan dan Honggodjoyo, Kiyahi Ageng Brondong (Pangeran Lanang Dangiran) dikebumikan ditempat kediamannya sendiri di Botoputih Surabaya makamnya dimulyakan oleh putra-putranya dan selanjutnya dihormati oleh turun-turunnya hingga kini. Semoga arwah beliau diterima Allah Swt, dan Allah Swt juga memberikan kepada seluruh keturunannya Kiyahi Ageng Brondong kemulyaan, kesehatan dan kesejahteraan sebagaimana beliau senantiasa mendoakan cucu cicitnya selama hidupnya. Ada hal penting yang anda ketahui bahwa bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Sidoarjo, pejabat Pemerintah Kabupaten Sidoarjo beserta rombongan merupakan agenda rutin berkunjung ke : Pesarean Asri ing Pendem untuk nyekar ke makam Bupati pertama Sidoarjo Raden Tumenggung Panji Tjokronegoro I wafat tahun 1863 Ke Pesarehan keluarga Tjondronegoro (belakang masjid Djamik/ Agung Sidoarjo) nyekar Raden Adipati Aryo Panji Tjondronegoro I wafat tahun 1906 Langsung menuju Pesarehan Boto Putih Surabaya ke makam Raden Tumenggung Adipati Aryo Tjondronegoro II (Kanjeng Djimat Djokomono).

 

1.      Kelahiran anak: ♀ 4. Nyai Setro / Astro [Ki Ageng Brondong]

2.      Kelahiran anak: ♂ 1. Kyai Tumenggung Onggodjoyo I / Kyai Lanang Glangsing (Honggodjoyo / Gentono) [Ki Ageng Brondong] d. 1690

3.      Kelahiran anak: ♀ 3. Nyai Danoe Singopoero [Ki Ageng Brondong]

4.      Kelahiran anak: ♂ Kyai Tumenggung Djangrono I / Kyai Onggowongso (Honggowongso) [Ki Ageng Brondong] d. Desember 1678

5.      Kelahiran anak: ♀ 7. Nyai Wongsoito / Nyai Wongsosuto [Ki Ageng Brondong]

6.      Kelahiran anak: ♀ 6. Nyai Udju / Nyai Lundu [Ki Ageng Brondong]

 

7.      Kelahiran anak: Surabaya, Menurunkan Trah Demang Sutoyudo Peneleh - Suroboyo, ♀ 5. Nyai Lurah nDalem Wiroguno [Ki Ageng Brondong]

8.      Gelar, Pangeran Lanang Dangiran / Kyai Ageng Brondong sebagai PANCER = yaitu Leluhur/nenek moyang Trah Kasepuhan & Kanoman Surabaya / sebagai cikal bakal / pakem Sejarah Kasepuan – Kanoman Surabaya, atau Level 1 = Putera ke 2 Pangeran Kedawung.

9.      perkawinan: ♀ Nyai Ageng Brondong [Ki Bimotjili]

 

D.    Keturunan Ki Ageng Brondong

Ki Ageng Brondong memiliki keturunan Raden Tumenggung Panji Tjokronegoro I, Bupati Sidoarjo yang pertama, diambil dari silsilah pangeran Lanang Dangiran Kyai Ageng Brondong kang sumare ing pesarehan sentono Botoputih Surabaya. Di buku sejarah sekolah atau sejarah penyebaran Islam di Indonesia, hampir tidak pernah menyinggung sosok Kiai Brondong dan keturunannya. Sampai-sampai tidak satu pun referensi wisata ziarah yang mampir ke Boto Putih. Sesungguhnya kompleks makam Sentono Boto Putih begitu unik. Banyak yang meyakini, Kiai Brondong dan keturunannya yang sebenarnya menyebarkan Islam paling intensif setelah dikenalkan Sunan Ampel dan para wali. Ornamen setiap makam begitu eksotis. Kental sekali dengan suasana pesisiran, perkawinan kultur Arab, Jawa, dan Belanda. Kelambu putih, grafir batu nisan kaligrafi Arab di semua dinding, ukir-ukiran bercat emas, hingga konstruksi makam bergaya indisch kolonial yang kukuh. Cobalah mampir, karena tempat ini jauh dari kesan angker. Ada sejumlah gapura berlanggam abad 15 yang dikenal dengan istilah kori agung. Sementara di dalamnya, setiap makam bersolek, semua berlomba tampil mewah. Setiap makam memiliki cungkup dan berhias menurut selera ahli warisnya karena semua yang dimakamkan adalah raja. “Ini adalah kuburan raja-raja Jawa Timur yang dikenal dengan trah Boto Putih,” kata Yanto sang juru kunci. Namun katanya, sumbu spiritual dari semua makam ini adalah Kiai Brondong meskipun ornamen makamnya tidak lebih mewah dari makam raja lainnya. Ornamen di kompleks ini berbeda dengan langgam arsitektur di pekuburan raja-raja Jawa di Imogiri yang kental dengan aroma mistik. Kentalnya suasana Islam pesisiran di kompleks ini karena semua orang yang dikuburkan di Boto Putih adalah raja kecil yang begitu berpengaruh dalam melakukan penyebaran Islam setelah Sunan Ampel. Di satu makam berkelambu perak dan dan berukir kaligrafi Arab di bagian utara kompleks makam tertulis Bupati Sidoarjo 1863. Ini adalah makam RTAA Tjokronegoro II, orang mengenalnya Kanjeng Djimat Djokomono. Dalam referensi buku-buku tentang sejarah Sidoarjo, Tjokronegoro II dinilai sebagai bupati paling agamis. Dialah yang merombak Masjid Jamik di depan alun-alun dari sebuah musala yang sederhana menjadi tempat untuk syiar Islam. Melihat banyak pendatang Madura yang telantar, dia menggagas dibangunnya Kampung Magersari sebelah barat pendopo. Di buku Silsilah Pangeran Lanang Dangiran (Ki Ageng Brondong), Bab Asal Usul Keluarga Kasepuhan Kanoman Surabaya 1966 disebutkan, jika Brondong berperan besar dalam penyebaran Islam. Dia penganut sufi Jawa yang diakui para pengikutnya. Sayangnya, tidak ada kitab lengkap yang bisa diselamatkan. Ajaran sufi Kiai Brondong lama-lama menguap hingga akhir zaman kolonial, ajaran itu tidak dikenal lagi. Di buku itu ditulis ulang pemikiran Kiai Brondong dalam sebuah ajaran sufi Jawa Ing wekasan muwuhi kang runtik, dipun sareh pun cetha pratela. Artinya, jika perkataan seseorang keras dan menyakitkan, hendaklah ditanggapi dengan tenang dan dengarkanlah dengan sabar tanpa amarah

 

E.     Riwayat Hidup Kiyahi Ageng Brondong Botoputih Suroboyo.

1.      Riwayat versi 1

Konon dituturkan Pangeran Kedawung, disebut juga Sunan Tawangalun adalah raja di Blambangan atau dikatakan juga Bilumbangan. Beliau mempunyai 5 orang anak dan diantaranya ialah pangeran Lanang Dangiran. Diceritakan bahwa Lanang Dangiran pada usia 18 tahun bertapa dilaut dan menghanyutkan dirinya diatas sebuah papan kayu sebuah beronjong (alat penangkap ikan), tanpa makan atau minum, arus air laut dan gelombang membawa Lanang Dangiran hingga dilaut Jawa dan akhirnya suatu taufan dan gelombang besar melemparkan Lanang Dangiran dengan beronjongnya dalam keadaan tidak sadar, disebabkan karena berbulan-bulan tidak makan dan minum, dipantai dekat Sedayu, Lamongan. Seluruh badannya telah dilekati oleh karang, keong serta karang-karang (remis) sehingga badan manusia itu seolah-olah ditempeli dengan bakaran jagung yang disebut dengan bahasa jawa “Brondong” Badan Pangeran Lanang Dangiran diketemukan oleh seorang kiyahi yang bernama Kiyahi Kendil Wesi. Pangeran Lanang Dangiran dirawat oleh Kiyahi Kendil Wesi serta istrinya dengan penuh kasih sehingga sadar kembali dan akhirnya menjadi sehat seperti sediakala. Pangeran Lanang Dangiran menceritakan asal-usulnya kepada Kiyahi Kendil Wesi. Setelah Kiyahi Kendil Wesi mendapat keterangan tentang asal usulnya Pangeran Lanang Dangiran, maka diceritakan oleh Kiyahi tadi bahwa ia juga asal keturunan dan raja-raja di Blambangan yang bernama Menak Soemandi dimana beliau masih satu keturunan dengan Lanang Dangiran. Menak Soemandi mempunyai putra bernama Menak Gandru, Menak Gandru mempunyai putra bernama Menak Werdati, Menak Werdati mempunyai putra bernama Menak Lumpat alias Sunan Rebut Payung, Menak Lumpat mempunyai putra bernama Pangeran Kedawung alias Sunan Tawang Alun dan Pangeran Kedawung ayah dari Pangeran Lanang Dangiran dan leluhurnya adalah Prabu Brawijaya V aliasKertowijoyo ( Bhre Tumapel , Maharaja Majapahit ) 1447 - 1478 yang istrinya dari Putri Blambangan. Lanang Dangiran tinggal dan kumpul dengan Kiyahi Kendil Wesi, dan dianggap sebagai anaknya kiyahi sendiri. Pangeran Lanang Dangiran memeluk agama Islam, karena rajin dan keteguhan imannya serta keluhuran budinya serta kesucian hatinya, maka tidak lama pula ia dapat tampil kemuka sebagai guru Agama Islam, Pangeran Lanang Dangiran berisitrikan putrid dan Ki Bimotjili dan Panembahan di Cirebon yang asal usulnya dituliskan sebagai berikut :Pangeran Kebumen Bupati Semarang, berisitrikan putri dari Sultan Bojong, bernama Prabu Widjaja (Djoko Tingkir). Ki Bomotjili adalah salah satu seorang putra dan Pangeran Kebumen tersebut diatas, seorang putri dan Ki Bimotjilimi bersuamikan Pangeran Lanang Dangiran alias Kiyahi Brondong (dimakamkan di Boto Putih). Nama Brondong diperoleh karena ia diketemukan oleh Kiyahi Kendil Wesi badannya dilekati dengan “Brondong” Kiyahi Kendil Wesi yang waspada dan mengetahui nasib seseorang, mengatakan kepada Lanang Dangiran yang sudah mendapat sebutan Kiyahi Brondong dan masyarakat sekitar tempat Kiyahi Kendil Wesi, supaya pergi ke Ampel Dento Suroboyo, dan meluaskan ajaran Agama Islam, karena di Surabaya Kiyahi Brondong kelak akan mendapat kebahagiaan serta turun temurunnya kelak akan timbul dan tambah menjadi orang-orang yang mulya. Kemudian Kiyahi Brondong dengan istrinya dan beberapa anaknya yang masih kecil pergi ke Surabaya dan pada Tahun 1595 menetap diseberang timur kali Pegiri’an, dekat Ampel ialah Dukuh Boto Putih (Batu Putih) ditempat baru inilah Kiyahi Brondong mendapatkan martabat yang tinggi dan masyarakat, karena keluhuran budinya Kiyahi Brondong (pangeran Lanang Dangiran) wafat pada tahun 1638 dalam usia + 70 tahun dan meninggalkan 7 orang anak, diantaranya 2 orang laki-laki yaitu : Honggodjoyodan Honggowongso. Bupati Sidoarjo yang pertama adalah keturunan dari Honggodjoyo, Kiyahi Ageng Brondong (Pangeran Lanang Dangiran) dikebumikan ditempat kediamannya sendiri di Botoputih Surabaya makamnya dimulyakan oleh putra-putranya dan selanjutnya dihormati oleh turun-turunnya hingga kini. Semoga arwah beliau diterima Allah Swt, dan Allah Swt juga memberikan kepada seluruh keturunannya Kiyahi Ageng Brondong kemulyaan, kesehatan dan kesejahteraan sebagaimana beliau senantiasa mendoakan cucu cicitnya selama hidupnya. Ada hal penting yang anda ketahui bahwa bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Sidoarjo, pejabat Pemerintah Kabupaten Sidoarjo beserta rombongan merupakan agenda rutin berkunjung ke :Pesarean Asri ing Pendem untuk nyekar ke makam Bupati pertama Sidoarjo Raden Tumenggung Panji Tjokronegoro I wafat tahun 1863, ke Pesarehan keluarga Tjondronegoro (belakang masjid Djamik / Agung Sidoarjo) nyekar Raden Adipati Aryo Panji Tjondronegoro I wafat tahun 1906, langsung menuju Pesarehan Boto Putih Surabaya ke makam Raden Tumenggung Adipati Ario Tjondronegoro II (Kanjeng Djimat Djokomono).

2.      Riwayat versi 2

Siapakah Ki Lanang Dangiran .

Kedawung ibu nagari Blambangan (1598 _1659)

Kedawung sekarang termasuk daerah Puger , adalah ibu nagari ketiga Lumajang Tigang Juru / Majapahit Kedaton Wetan / Blambangan .

Ibu nagari pertama adalah Lumajang yang mulai dibangun Arya Wiraraja setelah mendapat tanah segar semangka Majapahit dari R.Wijaya ( Prasasti Kudadu 1293.Pada masa Bhree Wirabhumi dibangun istana yang megah KOTA RENON  seluas 6 ha , dan dikelilingi bentang yang kuat , lebar minimal 2 m ,tinggi minimal 4 m , dikelilingi sungai Bondoyudho. atau parit lebar 2 m , dalam minimal 2 m. Kemakmuran Blambangan( Blambangan berasal dari Balumbungan sebutan dari Prapancha dalam Negara Krtagama yang berarti, negeri banyak lumbung ./makmur ) yang berada dilereng gunung Semeru ,pada masa pemerintahan Bhree Wirabhumi , telah mengundang decak kagum Laksamana Cheng Ho , menyebabkan Kaisar dinasty Ming , CH’eng- Tsu  menyetujui saran Cheng Ho untuk mengakui kedaulatan negeri ini , sehingga disebut. Majapahit Kedaton Wetan . Tetapi  rupanya Kemakmuran juga  mengundang iri dan hasrat untuk menaklukan Blambangan sehingga harus memindahkan ibu nagarinya ke Panarukan.

Panarukan sebenarnya kota yang dipersiapkan oleh raja Hayamwuruk untuk mengendalikan wilayah timur(dalam Negara Krtagama.  , diceritakan Hayamwuruk , sangat bahagia melihat perkembangan.kota ini , sehingga melakukan tari suka cita di Candi Jago ).  Sehingga kepindahan ke wilayah ini , tidaklah terlalu mengalami kesulitan . Panarukan berkembang menjadi kota bandar yang besar.  apalagi ketika Majapahit Kedaton Kulon mulai memindahkan  ibu kotanya dari tepi sungai Brantas  ke pedalaman , dan mengurangi aktivitas di pelabuhan  Surabaya , maka Panarukan menjadi pelabuhan besar  satu satunya diselat Madura.

Pada saat itu , Portugis telah menguasi tanah Melayu dan Maluku , sehingga Portugis memerlukan logistik untuk mendukung kebutuhannya . Sementara pantai utara Jawa dikuasai Sultan yang beragama Islam yang sangat bermusuhan dengan Portugis. Usaha Portugis menjalin hubungan dengan Pasundan telah digagalkan oleh Sultan Fatahilah ,maka satu satunya hubungan yang terbuka adalah Blambangan . Blambangan dapat berhubungan dengan baik karena salah satu putra Blambangan , adalah Sunan Giri yang amat disegani dan menjadi pemimpin para Wali Sanga, sehingga Blambangan mampu menjalin hubungan baik dengan Sultan Islam dipantai Utara , dan juga dengan Portugis yang membutuhkan perbekalan .

Tentang Panarukan penjelajah Portugis Jonno de Barros, Decada IV,buku I,bab 7 (Portugies),menulis bahwa pada bulan Juli 1528, Don Garcia Henriquez, tampaknya berlabuh di pelabuhan Peneruca /Panarukan untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dan nampaknya raja Panarukan mengirim dutanya pada Gubernur Portugies di Malaka. Prof DR . Moch Yamin malah menafsirkan tentang berita sebagai adanya perjanjian antara Blambangan dan Portugis dan menandai sebagai telah runtuhnya Majapahit .

Tentang Peneruca dikemukakan bahwa sejak tahun 1526 telah dikunjungi 20 buah kapal Portugis untuk membeli perbekalan.Kerajaan Blambangan dianggap netral karena merupakan kerajaan Hindu, sedang kerajaan di Jawa adalah kerajaaan Islam , dan Portugis sedang berperang dengan kerajaan Islam ( Negeri Tawon Madu .22)

Sekali lagi , kemakmuran mengundang iri dan hasrat kerajaaan lain untuk menaklukan Blambangan  . Sunan Giri mampu mencegah penyerbuan Sultan Trenggono terhadap Blambangan , tetapi para pelaut Bugis dan Maluku tidak senang dengan hubungan baik Blambangan dengan Portugis . Keramaian Pasuruan semakin surut ,apalagi ketika Portugis mulai menemukan Amerika .

Sepinya ibu nagari Blambangan Panarukan serta letusan Gunung Raung yang sangat dahsyat  pada tahun 1586 dan 1597 menyebabkan tanah runtuh di Bondowoso , Situbondo ,  dengan korban ribuan jiwa,  akhirnya mendorong pemindahan ibu nagari ke Kedawung , tanah subur di pedalaman tetapi masih dekat dengan laut ( Samudra Hindia) pada tahun 1598..

Di ibu nagari yang baru ini muncullah dinasti Tawangalun , yang membawa negeri Blambangan berjaya kembali sampai tahun 1665.

Dalam masa jaya di Kedawung , Blambangan mampu menahan serangan Sultan Agung pada tahun 1635 yang mengirim 30000 orang laskar dan menyerang Puger dan Penarukan .. Sultan Agung menawan 5000 orang Blambangan diangkut ke Mataram . Tetapi secara perlahan dan pasti Blambangan bangkit kembali . Dan pada tahun 1647 Mataram menggempur lagi Blambangan dibawah pimpinan Tumenggung Wiraguna . Serbuan ini gagal ketika Tumenggung Wiraguna terbunuh . Gagal menaklukan Blambangan Mataram melakukan perampokan besar besaran  ( Nagari Tawon Madu 28 n Perebutan Hegemoni Blambangan ). Di balik kepedihan dan kehancuran ini , sebagian penduduk Blambangan melarikan ke arah barat dan sebagian lagi mulai membangun pemukiman baru di Bayu , daerah Banyuwangi juga ke Bali. Mereka yang ketimur kemudian membangun ibu nagari di Bayu , kemudian Macan Putih , dan Kota Lateng . Sedang yang kearah barat , terwakili dengan sejarah Ki Lanang Dangiran .

Adalah Prabu Tawangalun  memiliki putra putri 5 orang .Salah satu putranya  Pangeran Lanang Dangiran  yang  sejak  kecil menyenangi olah ruh ( spiritual),  sangat senang melakukan tapa brata dan pada usia 18 tahun bertapa dilaut dan menghanyutkan dirinya diatas sebuah papan kayu yang disebut.  beronjong (alat penangkap ikan), tanpa makan atau minum.

Sang pertapa muda yang berbulan bulan di ombang ambingkan gelombang karena khusyuknya ,tidak menyadari seluruh badannya telah dilekati oleh karang, keong serta karang-karang (remis) .

Arus  laut dan gelombang membawa beliau sampai ke laut Jawa . Ketika laut Jawa dilanda  taufan , maka gelombang besar melemparkan pertapa muda itu ke pantai Sedayu , Lamongan .

Dipantai Sedayu beliau ditemukan ,oleh  Kyai  Kendil Wesi , untuk kemudian dirawat dan disadarkan sehingga  menjadi sehat seperti sediakala.

Karena badannya  penuh benjolan yang  dilekati remis, seperti  jagung terbakar maka beliau mendapat julukan  “Brondong”

Pangeran Lanang Dangiran /Brondong kemudian menceritakan asal-usulnya kepada Kiyahi Kendil Wesi bahwa beliau  adalah putra Sunan Tawangalun /Menak Kedawung raja Blambangan.

.Betapa bahagianya Kyai Kendil Wesi karena dia dapat menolong saudaranya sendiri karena  Kyai Kendil Wesi juga berasal dari keturunan  raja-raja  Blambangan dari garis  Menak Soemandi.

Menak Soemandi mempunyai putra bernama Menak Gandru, Menak Gandru mempunyai putra bernama Menak Werdati, Menak Werdati mempunyai putra bernama Menak Lumpat alias Sunan Rebut Payung, Menak Lumpat mempunyai putra bernama Pangeran Kedawung alias Sunan Tawang Alun / Pangeran Kedawung ayah dari Pangeran Lanang Dangiran. Sehingga pangeran Lanang Dangiran meiliki leluhur yang sama . Apalagi kalau hal itu ditelusuri sampai raja raja di Majapahit.

Kareana itu Lanang Dangiran /Brondong kemudian dijadikan putra  Kyai  Kendil Wesi.

Kyai Kendil.Wesi kemudian mengajarkan Islam. Pangeran Lanang Dangiran/ Brondong sebagai anak asuh Kyai Kendil Wesi , menjadi santri yang tekun , mengaji dan menjalankan syariat Islam  sehingga pengetahuan agamanya sangat luas .  Sebagai santri  yang luas pengetahuan agamanya , keteguhan imannya ,keluhuran budinya serta kesucian hatinya, dia menjadi ustadz yang sangat dihormati dan terkenal .

Maka tidak salah beliau mendapat perhatian KI Bimotjili dan kemudian menjodohkan dengan putrinya.

Ki Bimotjili adalah salah putra Pangeran Kebumen , Bupati Semarang yang  adalah menantu  Hadiwijaya  (Djoko Tingkir) pendiri Mataram yang diangkat dan disyahkan oleh Sunan Giri putra Blambangan.

Setelah diambil mantu oleh Kyai Bimotjili , Ki Lanang Dangiran memohon izin untuk memperdalam ilmunya  berguru kepada Sunan Giri ( Sunan Giri Prapen ) yang memiliki darah Blambangan . Sebagai keluarga besar Blambangan , Ki Lanang Dangiran disambut gembira oleh Sunan Giri Prapen . Beliau ditempatkan di timur sungai Pegirian , dukuh Boto Putih dekat Ampel, yang saat itu telah berkembang sebagai pusat pendidikan Islam , yang dibangun sejak masa Sunan Ampel . Ki Lanang Dangiran dengan cepat dapat menguasai ilmu ilmu yang diajarkan,sehingga beliau sangat dihormati dan dimuliakan sehingga dipercaya menjadi ulama ditempat tersebut .

Sebagai ulama , beliau mempersiapkan putra putrinya menjadi panutan .

Beliau memiliki 5 putri dan 2  orang putra yang bernama Honggodjoyo dan Honggowongso . Maka tidak heran apabila Honggodjoyo dan Honggowongso menjadi anak muda yang memiliki character pemimpin.

 

a.      Masa kebesaran Wong Blambangan

Karena itu tidak mengherankan ketika patih Surabaya , Pangeran Pekik mangkat  putra Ki Lanang Dangiran  Honggowongso ditetapkan menjadi Bupati  di Surabaya ke 11 dengan gelar Djangrono 1 Th.1670-1678, oleh Sunan Amangkurat  (Mataram-Kartosuro), sedangkan adiknya  Honggodjoyo diangkat sebagai bupati  di Pasuruan.(1678_1686).

Jika di daerah barat , wong Blambangan mendapat kedudukan yang terhormat sebagai Patih dan bupati , demikian pula yang pergi ke arah timur .Sunan Tawangalun 2 ( 1655 _1690), juga berhasil membawa kerajaan Blambangan mencapai kejayaan . Beliau membangun istana di Macan Putih . Selain menggiatkan pertanian , beliau membangun pelabuhan besar Ulu Pampang /Muncar yang sangat ramai. Export Blambangan meliputi sarang burung, beras, dan hasil hutan.  Pelabuhan Ulupampang setiap tahun mengexport sarang burung seharga  empat ribu found sterling, 1 ton bahan lilin, dan 600 ton beras, dan hasil hutan lainnya. Ulupampang  dipenuhi perahu besar milik kerajaan, perahu besar bangsa China, dan Bugis.  Selain perahu tersebut, pelabuhan Ulupampang , setiap setengah tahun disinggahi kapal Inggris yang berlayar ke Australia untuk membeli perbekalan . Tercatat yang mengunjungi Ulupampang adalah Francis Drake , dengan membawa kapal The Paca  berbobot 70 ton, dan The Swan berbobot 50 ton.Juga Thomas Candish telah tinggal selama dua minggu di Ulupampang , dengan membawa kapal “Pretty” dan” Wilhems (24.61)

 

b.      R.Ajeng Kartini berdarah Kyai Lanang Dangiran

Kiprah keturunan Ki Lanang Dangiran , di daerah barat , kita ketahui banyak menduduki jabatan penting. Dari darah Honggodjoyo, lahir mas Tumenggung Tjondronegoro  kemudian diangkat menjadi Bupati Sidoarjo Bila ditelusuri lebih jauh maka dari keturunan Tumenggung Tjondronegoro cucu  Ki Lanang Dangiran kita dapati :

1)      Kiai Tumenggung Tjokronegoro, Bupati Kesepuhan Surabaya. 1763 – 1783.

2)       Kiai Tumenggung Djojonegoro, Bupati Probolinggo.

3)      Kiai Tumenggung Tjondronegoro, Bupati Lamongan 1808 – 1812 kemudian pindah ke Pati 1812 – 1830.Dari darah beliau lahirlah  Raden Ajeng Kartini ).

 

Dengan demikian dari darah R. Ajeng Kartini mengalir  darah Ki Lanang Dangiran , putra Sunan Tawangalun , raja Blambangan

Kiyahi Brondong (pangeran Lanang Dangiran) wafat pada tahun 1638 dalam usia + 70 tahun  dan dikebumikan  di Botoputih Surabaya

 


0 comments:

Posting Komentar