majapahit2010

Senin, 07 Desember 2020

KIDUNG LINGSIR ING WENGI


KIDUNG LINGSIR ING 

WENGI

(Karya asli Sunan Kalijogo / R. Said)

Meniko release mocopat Kidung Lingsir Ing Wengi versi suguhan gubahan tampilan yang update zaman.

LIRIK
KIDUNG RUMEKSO ING WENGI

1. Ana kidung rumekso ing wengi
2. Teguh hayu luputa ing lara
3. Luputa bilahi kabeh
4. Jim setan datan purun
5. Paneluhan tan ana wani
6. Niwah panggawe ala
7. Gunaning wong luput
8. Geni atemahan tirta
9. Maling adoh tan ana ngarah ing mami
10. Guna duduk pan sirno

Artinya : Ada sebuah kidung doa permohonan di tengah malam. Yang menjadikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setan pun tidak mau mendekat. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat, guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuri pun menjauh dariku. Segala bahaya akan lenyap.

11. Sakehing lara pan samya bali
12. Sakeh ngama pan sami mirunda
13. Welas asih pandulune
14. Sakehing braja luput
15. Kadi kapuk tibaning wesi
16. Sakehing wisa tawa
17. Sato galak tutut
18. Kayu aeng lemah sangar
19. Songing landhak guwaning
20. Wong lemah miring
21. Myang pakiponing merak

Artinya : Semua penyakit pulang ke tempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh di besi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.

22. Pagupakaning warak sakalir
23. Nadyan arca myang segara asat
24. Temahan rahayu kabeh
25. Apan sarira ayu
26. Ingideran kang widadari
27. Rineksa malaekat
27. Lan sagung pra rasul
28. Pinayungan ing Hyang Suksma
28. Ati Adam utekku baginda Esis
29. Pangucapku ya Musa

Artinya : Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua selamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku Adam dan otakku Nabi Sis. Ucapanku adalah Nabi Musa.

30. Napasku nabi Ngisa linuwih
31. Nabi Yakup pamiryarsaningwang
32. Dawud suwaraku mangke
33. Nabi brahim nyawaku
34. Nabi Sleman kasekten mami
35. Nabi Yusuf rupeng wang
36. Edris ing rambutku
37. Baginda Ngali kuliting wang
38. Abubakar getih daging Ngumar singgih
39. Balung baginda ngusman

Artinya : Nafasku Nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakub pendengaranku. Nabi Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi Sulaiman menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku. Nabi Idris menjadi  rupaku. Ali sebagai kulitku. Abu Bakar darahku dan Umar dagingku.  Sedangkan Usman sebagai tulangku.

40. Sumsumingsun Patimah linuwih
41. Siti aminah bayuning angga
42. Ayup ing ususku mangke
43. Nabi Nuh ing jejantung
44. Nabi Yunus ing otot mami
45. Netraku ya Muhammad
45. Pamuluku Rasul
46. Pinayungan Adam Kawa
47. Sampun pepak sakathahe para nabi
48. Dadya sarira tunggal

Artinya : Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia. Siti Aminah sebagai kekuatan badanku. Nanti Nabi Ayub ada di dalam ususku. Nabi Nuh di dalam jantungku. Nabi Yunus di dalam otakku. Mataku ialah Nabi Muhammad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.



Senin, 16 November 2020

WAHYU MAHKUTHA RAMA

WAHYU MAHKUTHA RAMA

 

Dikenal dengan nama ajaran HASTABRATA yang artinya HASTA adalah 8 dan BRATA adalah tingkah laku atau watak. Jadi HASTABRATA adalah merupakan 8 pedoman ilmu standard perilaku manusia dalam leadership & Manajemen. Sekilas kacarita HASTABRATA telah di-wejangkan oleh Raden Regowo (Titisan Bhatara Wisnu) dari Ayodya kepada adiknya Barata sebelum dinobatkan menjadi raja di Ayodya bergelar Prabu Barata (Dalam Cerita Romo Tundung).

Yang kedua oleh Raden Regowo juga (Titisan Bhatara Wisnu) dari Ayodya kepada Raden Wibisono sebelum dinobatkan menjadi raja di Alengka yang berganti nama menjadi Sindelo bergelar Prabu Wibisono (Dalam Cerita Bedah Alengko).

Yang ketiga Sri Bathara Kresna (Titisan Bhatara Wisnu) dari Dworowati mewejangkan rahasia ilmu HASTABRATA (Dalam Cerita Wahyu Makutoromo) Raden Arjuna, sbg penengah Pendawa yang telah menjalani “Perilaku” prihatin dengan cara bertapa.

Dikatakan bahwa ke-delapan unsur alam semesta tersebut dapat menjadi teladan perilaku sehari-hari dalam pergaulan masyarakat terlebih lagi dalam rangka memimpin negara dan bangsa dgn implementasi prinsip2 hukum alamiah.

Asta Brata adalah delapan prinsip kepemimpinan sosial yang meniru filosofi/sifat alam, yaitu:

1.      Mahambeg Mring Kismo (meniru sifat bumi).

Seperti halnya bumi, seorang pemimpin berusaha untuk setiap saat menjadi sumber kebutuhan hidup bagi siapa pun. Dia mengerti apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya dan memberikan kepada siapa saja tanpa pilih kasih. Meski selalu memberikan segalanya kepada rakyatnya, dia tidak menunjukkan sifat sombong/angkuh.

2.      Mahambeg Mring Warih (meniru sifat air)

Seperti sifat air, mengalir dari tinggi ke tempat yang lebih rendah dan sejuk/dingin. Seorang pemimpin harus bisa menyatu dengan rakyat sehingga bisa mengetahui kebutuhan riil rakyatnya. Rakyat akan  merasa sejuk, nyaman, aman, dan tentram bersama pemimpinnya. Kehadirannya selalu diharapkan oleh rakyatnya. Pemimpin dan rakyat adalah mitra kerja dalam membangun persada tercinta ini. Tanpa rakyat, tidak ada yang jadi pemimpin, tanpa rakyat yang mencintainya, tidak ada pemimpin yang mampu melakukan tugas yang diembannya sendirian.

3.      Mahambeg Mring Samirono (meniru sifat angin).

Seperti halnya sifat angin, dia ada di mana saja/tak mengenal tempat dan adil kepada siapa pun. Seorang pemimpin harus berada di semua strata/lapisan masyarakatnya dan bersikap adil, tak pernah diskriminatif (membeda-bedakan)

4.      Mahambeg Mring Condro (meniru sifat bulan).

Seperti sifat bulan, yang terang dan sejuk. Seorang pemimpin mampu menawan hati rakyatnya dengan sikap keseharian yang tegas/jelas dan keputusannya yang tidak menimbulkan potensi konflik. Kehadiran pemimpin bagi rakyat menyejukkan, karena aura sang pemimpin memancarkan kebahagiaan dan harapan.

5.      Mahambeg Mring Suryo (meniru sifat matahari).

Seperti sifat matahari yang memberi sinar kehidupan yang dibutuhkan oleh seluruh jagat. Energi positif seorang pemimpin dapat memberi petunjuk/jalan/arah dan solusi atas masalah yang dihadapi rakyatnya.

6.      Mahambeg Mring Samodra (meniru sifat laut/samudra).

Seperti sifat lautan, luas tak bertepi, setiap hari menampung apa saja (air dan sampah) dari segala penjuru, dan membersihkan segala kotoran yang dibuang ke pinggir pantai. Bagi yang memandang laut, yang terlihat hanya kebeningan air dan timbulkan ketenangan. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan hati dan pandangan, dapat menampung semua aspirasi dari siapa saja, dengan penuh kesabaran, kasih sayang, dan pengertian terhadap rakyatnya.

7.      Mahambeg Mring Wukir (meniru sifat gunung).

Seperti sifat gunung, yang teguh dan kokoh, seorang pemimpin harus memiliki keteguhan-kekuatan fisik dan psikis serta tidak mudah menyerah untuk membela kebenaran maupun membela rakyatnya. Tetapi juga penuh hikmah tatkala harus memberikan sanksi. Dampak yang ditimbulkan dengan cetusan kemarahan seorang pemimpin diharapkan membawa kebaikan seperti halnya efek letusan gunung berapi yang dapat menyuburkan tanah.

8.      Mahambeg Mring Dahono (meniru sifat api).

Seperti sifat api, energi positif seorang pemimpin diharapkan mampu menghangatkan hati dan membakar semangat rakyatnya mengarah kepada kebaikan, memerangi kejahatan, dan memberikan perlindungan kepada rakyatnya.

 

WAHYU

Bagi sebagian masyarakat Jawa masih banyak yang beranggapan bahwa wahyu adalah wujud kelimpahan rahmat dan pencerahan Tuhan kepada seseorang, sehingga orang yang mendapatkan wahyu atau kewahyon dapat dikatakan hidupnya akan berhasil secara lahir dan batin. Dengan demikian wahyu dimaknai sebagai tanda perubahan seseorang mengarah kepada kebaikan, kesuksesan, dan kemasyhuran yang juga berguna bagi kesejahteraan orang banyak. Untuk mencapai semua itu, manusia Jawa biasanya melakukan laku batin antara lain; bertapa, berpuasa, mengurangi tidur, berpantang, atau mengunjungi tempat-tempat yang dianggap sakral dan masih banyak yang lainnya.

1.      Pada khalayak ramai muncul beragam pendapat tentang makna wahyu. Harun Nasution dalam bukunya Filsafat Agama mengartikan wahyu sebagai suatu kebenaran yang datangnya langsung dari Tuhan kepada salah seorang dari hamba-Nya. Dengan kata lain, wahyu terjadi karena adanya komunikasi antara Tuhan dan manusia (1979: 21). Wahyu juga berarti kemuliaan Illahi, keuntungan, kejayaan (Sastro Amidjojo, 1964: 112).

2.      R.S. Subalidinata dalam GATRA Majalah Warta Wayang no.6 th. 1985 memberikan  pengertian tentang wahyu sebagai berikut : Wahyu adalah pulung nugrahaning Allah (kebahagiaan anugerah Tuhan), wahyuadalah Wedharing Allah menggahing prakara gaib (keterangan Tuhan mengenai perkara gaib). Kebanyakan orang menganggap wahyu sama dengan pulung. Ketiban wahyu (kejatuhan wahyu) sering dikatakan ketibaban pulung. Pulung tidak lain anugerah, keuntungan, kebahagiaan atau kemuliaan (1985: 13).

3.      Menurut Sri Mulyono dalam Wayang dan Filsafat Nusantara, wahyu adalah “sabda sejati”, dengan demikian wahyu ini tidak berujud benda, tetapi berujud ajaran-ajaran, petunjuk-petunjuk atau dalil-dalil dari Sang Hyang Wisesa Jati (1982: 54). Wahyu merupakan suatu anugerah dari Tuhan untuk umat pilihan-Nya dan bukan bersifat kebendaan atau keduniawian namun bersifat kerohanian (Tristuti, wawancara 11 Agustus 2003).

4.      Menurut Hardo Suti, seorang dalang di daerah Wonogiri memberikan makna wahyu sebagai berikut: “Wahyu menika setu-setunggaling bab ingkang digayuh bisa gawé kasembadaning karep. Ingkang dipun wastani ingkang sampun kewahyon menika tegesé wis kecekel kekarepané” (wawancara 31 Juli 2003).

Terjemahan: Wahyu merupakan sesuatu hal yang dicari agar bisa tercapai tujuannya. Yang dimaksud sudah kewahyon berarti sudah tercapai cita-citanya.

5.      Dalam dunia mitos Jawa ada sebagian golongan mempercayai bahwa wahyu itu memang ada dan berujud. Fenomena  tersebut dapat kita lihat dalam cerita-cerita rakyat atau dalam babad tanah Jawa yang menggambarkan turunnya wahyu berupa seberkas cahaya terang dan kemudian jatuh lalu menyatu dalam tubuh seseorang yang sedang melakukan tapa brata atau semedi.

6.      Menurut Kitab Pararaton disebutkan bahwa Ken Arok sejak bayi tubuhnya bersinar, dikatakan ia telah memperoleh wahyu keprabon (wahyu raja). Dalam Babad Mataram diceritakan bahwa Panembahan Senopati di waktu tidur ada benda yang bersinar sebesar kelapa jatuh didekatnya. Ini pertanda bahwa Penembahan Senopati telah mendapat wahyu. Raden Bagus Burhan atau yang lebih kita kenal dengan nama R. Ng. Ronggowarsito, seorang pujangga besar dari Kraton Surakarta ketika waktu kecilnya sedang tapa kungkum (bertapa dengan cara berendam dalam air) ada seberkas sinar menghampirinya, dikatakan ia mendapat wahyu (Subalidinata 1985:13).

7.      Menurut Toto Atmodjo, di kalangan orang tua dahulu mempercayai jika ada seberkas cahaya berwarna biru yang turun dari langit ada waktu malam disebut wahyu (wawancara 31 Juli 2003). R.M. Sajid dalam bukunya Bauwarna Kawruh Wajang, jilid 2 menerangkan bahwa wahyu berwarna putih kehijauan yang merupakan campuran dari mutiara, emas dan perak.

8.      Masih berkaitan dengan kepercayaan tentang wujud wahyu, Naryacarita dalang senior dari Kartasura, Sukoharjo menuturkan pengalaman pribadinya sebagai berikut “aku wis tau mlaku-mlaku ki weruh kaya bulan, gedhene padha karo bulan, glundhung-glundhung mubeng ngéné. Dadi jenengé wahyu. Sapa lé arep ketiban” (wawancara 30 Agustus 2003).

Terjemahan: Saya pernah berjalan-jalan melihat seperti bulan, besarnya seukuran bulan, berputar menggelinding seperti ini. Itu namanya wahyu. Siapa yang akan kejatuhan (mendapatkannya).

9.      Menurut Suwardi Endraswara dalam Mistik Kejawen, Sinkretisme, Simbolisme dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa mengklasifikasikan wujud wahyu menjadi 3 macam, yaitu: (a) wahyu nurbuwah, yaitu wahyu keraton. Wahyu ini akan menandakan siapa yang kuat menjadi raja. Namun hal ini juga bisa dikiaskan sebagi bentuk kekuasaan, atau dengan kata lain siapapun yang mendapatkan wahyu jenis ini akan mendapatkan kedudukan tertentu; (b) wahyu kukumah, yaitu berupa cahaya berwarna kuning keemasan sebagai wahyu bagi seseorang yang akan menjadi raja yang adil paramarta; (c) wahyu wilayah, yaitu wahyu yang diterima oleh seorang wali. Jika menerima wahyu ini, ia berhak menyebarkan wahyu Tuhan (2006:270-271)

10.  Dari berbagai cerita yang berkembang di masyarakat tadi dapat kita simpulkan bahwa wahyu menurut anggapan umum hanya bertempat pada “orang-orang pilihan”. Berkaitan dengan hal itu Subalidinata dalam salah satu tulisannya mengemukakan bahwa di kalangan umum menganggap wahyu itu sesuatu yang luar biasa, tidak dimiliki oleh sembarang orang (tokoh cerita). Wahyu hanya bertempat pada orang yang jujur, murah hati, suci. Sebaliknya tidak mau bertempat pada orang yang sombong, angkuh, tamak dan sebagainya (Subalidinata, 1985: 20).

11.  Dari keanekaragaman pendapat tentang wahyu tersebut di atas kita tidak dapat menyalahkan pendapat si A maupun si B atau menganggap pendapat si C yang benar. Namun secara garis besar dapat disimpulkan bahwa wahyu merupakan sebuah konsep yang mengandung pengertian suatu karunia, anugerah, mukjizat dari Tuhan untuk kebahagiaan umat-Nya.

12.  Setelah sekilas mengupas makna wahyu, selanjutnya penulis akan mencoba mengupas makna harfiah dari Makutharama itu sendiri. Menurut Sri Mulyono dalam buku Wayang dan Filsafat Nusantara mengartikan “makutha” sebagai suatu simbol atau status kewibawaan kerajaan dan kekuasaan duniawi, sedangkan “rama” diartikan sebagai Wisnu. Dengan demikian menurut Sri Mulyono, Wahyu Makutharama merupakan ajaran kepemimpinan dari Dewa Wisnu (1982: 54-55). Pendapat yang senada disampaikan oleh Timbul Hadi Prayitno seorang dalang senior dari Yogyakarta yang pendapatnya dikutip oleh Mas’ud Toyib dalam Majalah Pedalangan dan Pewayangan CEMPALA edisi Maret 1997 yang menyebutnya dengan lakon Wahyu Sri Makutharama. Kata “sri” memperkuat pengertian ratu/raja (pemimpin). Wahyu Sri Makutharama mengandung arti ajaran kepemimpinan (1997: 7). Tristuti Rahmadi Suryo Saputro berpendapat bahwa makutha adalah pengagemaning narendra (pakaian raja) sedangkan Rama adalah nama seorang raja di Pancawati. Dengan demikian Makutharama memiliki makna suatu wujud dari angger ugering keprabon (garis-garis besar kepemimpinan) yang pernah dipakai oleh Prabu Rama dan karena begitu mulianya ajaran tersebut sehingga derajadnya disamakan dengan wahyu (wawancara 3 Desember 2003).

            Sementara itu Naryacarita mengartikan Makutharama sebagai berikut:

13.  Makutharama kuwi tegesé ngéné, makutha ki agem-agemaning Rama. Rama nalika dhèwèké dadi ratu, kuwi dadi piwulang njut dadi ASTABRATA kaé,  dadi lé diarani Makutharama ki agem-agemané Rama nalika dadi Ratu” (wawancara 30 Agustus 2003). Terjemahan: Makutharama itu artinya begini, makutha adalah pakaian (pegangan) Rama sewaktu bertahta, itu menjadi sebuah ajaran kemudian menjadi ASTABRATA, jadi yang dimaksud Makutharama itu merupakan pegangan (ajaran) Rama sewaktu menjadi raja.

14.  Siswa Harsaya dalam Serat Wahju Makutharama (Hasta Brata Kawedhar) Sinawung Sekar Matjapat pupuh ke 16 pada Sekar Sinom menyebutkan: Wruhanta iku kerasan, pamoré tembung tri warni; Wahju Makutha lan Rama, lungguhé sawidji-widji, wahju iku kang dadi jekti, kanugrahaning Hyang Agung, Makutéku; busana, agemé para Narpati, kang pinundhi dumunung anèng Makutharama iku karepira; Rama Widjaja sang Adji, ija Sri Bathara Rama, Naréndra ing Pantjawati, ing Ngajodya nagari, kang samengka sang prabu wus, murud ing kasuwargan, malaj kabaré manitis, mring Sri Kresna naranata ing Dwaraka.

15.  Dadi surasaning kata, Wahju Makutharamaki, jéku nugrahaning suksma, kang anggung pinundi-pundi, Rama Widjaja Adji, nalika djumeneng ratu, puwara Prabu Rama, djumeneng Sunarapati, kontap ing rat dadya darsananing djagad (Siswo Harsojo, 1960). Terjemahan secara bebas: Ketahuilah bahwa makna dari tiga kata; wahyu, makutha dan rama. Masing-masing mempunyai makna sendiri-sendiri. Wahyu adalah anugerah dari Tuhan, Makutha adalah busana raja yang dikenakan di kepala.

16.  Rama maksudnya adalah Sang Prabu Rama Wijaya disebut juga Sri Bathara Rama seorang raja di Pancawati dari negara Ayodya yang telah wafat dan menurut berita telah menitis kepada Sri Kresna raja Dwaraka.

17.  Jadi makna kata wahyu Makutharama adalah anugerah dari Tuhan yang sangat dihormati oleh Prabu Rama Wijaya ketika bertahta dengan gelar Prabu Rama yang terkenal dan menjadi suri tauladan di dunia.

 

Dari kutipan di atas jelas dikatakan bahwa secara harfiahnya Wahyu Makutharama adalah mahkota dari Sri Rama raja di Pancawati. Dengan beberapa analisis di atas dapat disimpulkan bahwa Wahyu Makutharama mengandung pengertian sebuah anugerah yang berupa ilmu pengetahuan (ajaran-ajaran) tentang watak/konsep-konsep tentang kepemimpinan yang pernah diterapkan oleh Prabu Rama Wijaya pada jaman siklus cerita Ramayana.

Rabu, 11 November 2020

GELAR KEBANGSAWAN JAWA

Gelar kebangsawan Jawa

 

Dulu, gelar kebangsawan banyak membuat orang lain iri karena dengan gelar itu mereka mendapatkan keistimewaan.

Mungkinkah orang yang bukan keturunan raja bisa mendapatkan gelar kebangsawanan?

Julius Pour menuliskannya dalam Setiap Orang Bisa Memiliki Gelar Raden dalam Majalah Intisari edisi November 1974, seperti berikut ini.

Ada berbagai macam gelar dipergunakan orang, dalam lingkungan kerabat kerajaan Jawa.

Sebagian diantara gelar tersebut meniunjukkan jabatan mereka dalam pemerintahan keraton, Sisanya menunjukkan tingkatan pemiliknya dalam urutan daftar keluarga Raja.

Bagaimana pun juga, gelar yang dimiliki seseorang akan menentukan tempat duduk mereka dalam protokol keraton, ketika menghadap Raja.

Yang umum dan banyak sekali pemakainya, karena merupakan gelar bangsawan terrendah, adalah “Raden". Mereka yang menaruh “Raden” dimuka nama aslinya menunjukkan, sang pemilik masih merupakan keturunan langsung dari seorang Raja Jawa atau seorang Wali (penyebar agama Islam kepulau Jawa, pertama kali).

 

Gelar kebangsawanan Jawa pada umumnya diberikan kepada masyarakat keraton dan orang-orang di luar keraton yang dianggap berjasa kepada keraton. Seorang raja di kerajaan Mataram biasanya memiliki beberapa orang istri/selir (garwa ampeyan) dan seorang permaisuri/ratu (garwa padmi). Dari beberapa istrinya inilah raja tersebut memperoleh banyak anak lelaki dan perempuan di mana salah satu anak lelakinya akan meneruskan takhtanya dan diberi gelar putra mahkota. Sistem pergantian kekuasaan yang diterapkan biasanya adalah primogenitur lelaki (bahasa Inggris: male primogeniture) di mana anak lelaki tertua dari permaisuri berada di urutan teratas disusul kemudian oleh anak lelaki permaisuri lainnya dan setelah itu anak lelaki para selir.


A.    Gelar Kasunanan

Gelar yang dipakai di Kasunanan Surakarta antara lain :

 

1.      Penguasa Kasunanan: Sahandhap Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati-ing-Alaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Ingkang Jumeneng Kaping ... ing Nagari Surakarta Hadiningrat (SISKS)

2.      Permaisuri Susuhunan Pakubuwana: Gusti Kanjeng Ratu (GKR), dengan urutan :

a.       Ratu Kilen (Ratu Barat)

b.      Ratu Wetan (Ratu Timur)

c.       Selir Susuhunan Pakubuwana: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy), dengan urutan :

1)      Bendara Raden Ayu

2)      Raden Ayu

3)      Raden

4)      Mas Ayu

5)      Mas Ajeng

6)      Mbok Ajeng

3.      Pewaris takhta Kasunanan (putra mahkota): Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Negara Sudibya Rajaputra Narendra ing Mataram. (KGPAA)

4.      Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Gusti Raden Mas (GRM)

5.      Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH), dengan urutan :

a.       Mangku Bumi

b.      Bumi Nata

c.       Purbaya

d.      Puger

6.      Anak lelaki dari selir ketika masih muda: Bendara Raden Mas (BRM)

7.      Anak lelaki dari selir ketika sudah dewasa: Bendara Kanjeng Pangeran (BKP)

8.      Cucu lelaki dari garis pria: Bendara Raden Mas (BRM)

9.      Cicit lelaki dan keturunan lelaki lain dari garis pria: Raden Mas (RM)

10.  Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)

11.  Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)

12.  Anak perempuan tertua dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Kanjeng Ratu (GKR), dengan urutan :

a.       Sekar-Kedhaton.

b.      Pembayun.

c.       Maduratna.

d.      Bendara.

e.       Angger.

f.       Timur.

13.  Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)

14.  Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)

15.  Anak perempuan tertua dari selir ketika sudah dewasa: Ratu Alit

16.  Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)

17.  Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)

 

B.     Gelar Kesultanan

Gelar yang dipakai di Kesultanan Yogyakarta Penguasa Kesultanan :

1.      Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Senopati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng kaping ... ing Ngayogyakarta Hadiningrat (ISKS, pra Sabdaraja)

2.      Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengkubawana Ingkang Jumeneng Ka-... Suryaning Mataram Senopati-ing-Ngalaga Langgeng ing Bawono, Langgeng, Langgeng ing tata Panatagama (ISSS, pasca Sabdaraja)

3.      Permaisuri Sultan Hamengkubuwana: Gusti Kanjeng Ratu (GKR)

4.      Selir Sultan Hamengkubuwana: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)

5.      Pewaris takhta Kesultanan (putra mahkota): Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamengku Negara Sudibya Rajaputra Narendra ing Mataram

6.      Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Gusti Raden Mas (GRM)

7.      Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH)

8.      Anak lelaki dari selir ketika masih muda: Bendara Raden Mas (BRM)

9.      Anak lelaki dari selir ketika sudah dewasa: Bendara Pangeran Harya (BPH)

10.  Cucu lelaki dan keturunan lelaki lain dari garis pria: Raden Mas (RM)

11.  Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)

12.  Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)

13.  Anak perempuan tertua dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Kanjeng Ratu (GKR)

14.  Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)

15.  Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)

16.  Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)

17.  Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)

 

C.    Gelar Pakualaman

Gelar yang dipakai di Kadipaten Pakualaman hampir seluruhnya sama dengan Kesultanan Yogyakarta karena secara historis merupakan pecahan keluarga dari Yogyakarta Hadiningrat. Seperti juga Mangkunegaran, kedudukan penguasa Pakualaman tidak sejajar dengan Sultan/Raja.

1.      Penguasa Paku Alaman: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam Kaping ...

2.      Permaisuri Raja Paku Alam: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)

3.      Selir Raja Paku Alam: Bendara Raden Ayu (BRAy) atau Raden Ayu (RAy)

4.      Pewaris takhta Paku Alaman (putra mahkota): Bendara Pangeran Harya Suryadilaga

5.      Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Gusti Bendara Raden Mas (GBRM)

6.      Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: Kanjeng Pangeran Harya (KPH)

7.      Anak lelaki dari selir ketika masih muda: Raden Mas (RM)

8.      Anak lelaki dari selir ketika sudah dewasa: Bendara Raden Harya (BRH)

9.      Cucu lelaki dan keturunan lelaki sampai generasi ketiga dari garis pria: Raden Mas (RM)

10.  Keturunan lelaki setelah generasi keempat lain dari garis pria: Raden

11.  Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Bendara Raden Ajeng (GBRA)

12.  Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Bendara Raden Ayu (GBRAy)

13.  Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)

14.  Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)

15.  Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)

16.  Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)

 

D.    Gelar Mangkunagaran

Gelar yang dipakai di Praja Mangkunagaran di Surakarta hampir sama dengan Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta dan Pakualaman. Perbedaannya adalah pada gelar penguasa dari Mangkunegaran yang tingkatannya berada dibawah Sultan/Raja, sebagaimana tercantum dalam isi Perjanjian Giyanti yang mendasari kelahirannya.

1.      Penguasa Mangkunagaran: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Harya Mangku Negara Senapati ing Ayuda Kaping ... (KGPAA)

2.      Permaisuri Raja Mangkunagara: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)

3.      Selir Raja Paku Mangkunagara: Bendara Raden Ayu (BRAy) atau Raden Ayu (RAy)

4.      Pewaris takhta Mangkunagaran (putra mahkota): Pangeran Adipati Harya Prabu Prangwadana

5.      Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri: Gusti Raden Mas (GRM)

6.      Anak lelaki dari selir: Bendara Raden Mas (BRM)

7.      Cucu lelaki dan keturunan lelaki sampai generasi ketiga dari garis pria: Raden Mas (RM)

8.      Keturunan lelaki setelah generasi keempat lain dari garis pria: Raden

9.      Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)

10.  Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)

11.  Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)

12.  Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)

13.  Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)

14.  Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)

 

E.     Gelar lain

Selain beberapa gelar tersebut di atas, di lingkungan keraton sering juga dijumpai sebutan khusus seperti :

1.      Sekarkedhaton (untuk menyebut putri sulung permaisuri)

2.      Sekartaji (untuk putri kedua)

3.      Candrakirana (untuk putri ketiga)

4.      Putra tertua dari seluruh Garwa Ampeyan bergelar Bendara Raden Mas Gusti dan akan berubah menjadi Gusti Pangeran setelah diangkat menjadi pangeran. Sedangkan putri tertua dari seluruh Garwa Ampeyan bergelar Bendoro Raden Ajeng Gusti dan akan berubah menjadi Pembayun setelah menikah. Khusus untuk putri sulung (tertua) dari Garwa Ampéyan mendapat gelar Kanjeng Ratu.

5.      Beberapa gelar yang diberikan/dianugerahkan/diturunkan baik oleh trah Kesultanan, Kasunanan, Pakualaman atau Mangkunegaran memiliki beberapa karakteristik khas yang terdiri dari gelar turunan (darah) dan istimewa. Gelar-gelar yang telah anda baca di atas merupakan gelar-gelar turunan hanya sampai generasi ketujuh saja. Untuk generasi selanjutnya (8 sampai ...), bagi putra mendapatkan gelar Raden (R.) dan/atau Raden Bagus (RB.) dan bagi putri gelarnya Rara (Rr.). Gelar tersebut berlaku sampai generasi ke berapapun dengan catatan berasal dari keturunan lelaki atau pihak pancer trah wanita memiliki kedudukan bangsawan yang kuat. Pada gelar Raden Bagus, gelar ini akan berubah apabila yang bersangkutan telah menikah, gelar ini berubah menjadi Raden Bei/Raden Behi (RB.)

6.      Dalam lingkup gelar kebangsawanan Mataram Islam, 4 praja nagari (Kesultanan, Kasunanan, Pakualaman, Mangkunegaraan) juga mengenal Gelar Istimewa. Gelar-gelar ini dibedakan menjadi 2 macam, yakni dapat diteruskan pada generasi berikutnya baik putra maupun putri dan yang tidak dapat diturunkan pada generasi berikutnya dengan alasan merupakan gelar jabatan. Pada gelar istimewa yang dapat diturunkan, untuk keturunan dari lelaki dapat memperoleh gelar yang sama dengan generasi sebelumnya, khusus keturunan dari perempuan gelarnya akan diturunkan sesuai tingkatan gelar umum. Jika tingkatan gelar keturunan dari perempuan habis maka keturunan berikutnya tidak mendaptkan gelar lagi, kecuali Trah dari garis wanita memiliki kedudukan kebangsawanan yang kuat.

a.      Contoh gelar yang dapat diturunkan Putra :

1)      Raden Mas (R.M.)

1)      Raden (R.)

2)      Raden Bagus (R.B.)

3)      Raden Bei (R.B.)

4)      Raden Panji (R.P.)

5)      Raden Aryo Panji

6)      Mas / Mas Anom / Aryo Bagus / Bagus (merupakan gelar terakhir: ditulis lengkap, biasanya merupakan sebutan bagi seseorang)

b.      Contoh gelar yang dapat diturunkan Putri:

1)      Raden Ajeng (RA.) / Raden Ayu (RAy.)

2)      Rara (Rr.)

3)      Raden Nganten (RNgt.)

4)      Dyah / Ayu / Nimas (merupakan gelar terakhir: ditulis lengkap, biasanya merupakan sebutan bagi seseorang)

Gelar-gelar pada poin di atas merupakan gelar-gelar kebangsawan Jawa yang diakui secara aklamasi di seluruh Nusantara agar dapat diturunkan terhadap anak cucunya tanpa batas. Pada Gelar Putri, gelar Rara (Rr.) dapat diturunkan sampai generasi keberapapun dengan catatan Trah Pihak Wanita memiliki kedudukan bangsawan/Trah yang kuat/Tinggi. Pada poin terakhir pada masing-masing gelar di putra maupun putri, sebutan gelar tersebut merupakan sebuah penghormatan bagi orang-orang yang merupakan trah bangsawan namun telah habis grad penurunan gelarnya. Gelar tersebut tidak harus dituliskan di Akta Kelahiran. Penggunaan gelar Raden Bagus dapat dimisalkan dengan: Seorang Ibu dengan gelar RA atau Rr menikah dengan seorang Bapak tanpa gelar, jika anaknya perempuan maka anaknya akan mendapat gelar Rr. (dengan catatan si Bapak harus diwisuda dengan gelar baru). Namun jika anaknya laki-laki maka gelarnya adalah Raden Bagus, apabila sudah menikah berubah menjadi Raden Bei. Penggunaan gelar Raden Bei juga digunakan pada anak pertama laki-laki.

 

F.     Gelar-gelar jabatan :

1.      Kanjeng Radèn Harya Tumenggung (KRHT) ; putra

2.      Mas Radèn Harya Tumenggung (MRHT) ; putra

3.      Kanjeng Radèn Mas Tumenggung (KRMT) ; putra

4.      Radèn Mas Tumenggung (RMT) ; putra

5.      Ki Tumenggung Adipati ; putra

6.      Ki Ageng ; putra

7.      Kyai Ageng ; putra

8.      Mas Tumenggung / Mas Adipati ; putra

9.      Kanjeng Mas Ayu Tumenggung ; putri

10.  Kanjeng Mas Ayu ; putri

11.  Mas Ayu ; putri

12.  Nimas Ayu ; putri

13.  Nyai Tumenggung ; putri

14.  Raden Hangabehi (RNg) ; putra

15.  Mas Ngabéi (MNg) ; putra

16.  Mas Bekel ; putra

17.  Mas Ngebel ; putra

18.  Nyai Adjeng ; putri

19.  Nyai ; putri

Perlu diperhatikan pada gelar jabatan putra & putri, gelar-gelar tersebut dapat d     iwisudakan pada generasi selanjutnya dengan beberapa pendapat :

1.      Jika keturunannya sudah dewasa, atau

2.      Jika sudah diketahui pihak keraton, atau

3.      Jika disetujui pihak keraton.

4.      Polemik gelar itu masih simpang siur. Namun bagi keturunan yang telah yakin dengan gelar yang disandang, hendaklah arif menggunakan gelar tersebut karena menyangkut harkat dan martabat generasi di atasnya. Khusus untuk gelar putri apabila ada seorang putri dengan gelar RA. menikah dengan priyayi alit (masyarakat biasa) dan mempunyai anak putri maka gelar anaknya tersebut diturunkan menjadi Rr. dan seterusnya.

5.      Gelar Istimewa karena Jabatan Biasa disandang oleh para Priyayi Anom, Adipati, Patih, Bupati, Wedana, Camat, Mantri dsb. (gelar ini dahulu disandangkan pada laki-laki, karena pemangku jabatan mayoritas adalah laki-laki, sedangkan istrinya juga mendapatkan gelar istimewa namun jarang)